KENDARI – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Kendari menggelar acara Forum Dialog Keberlanjutan Pertanian Lokal pada Sabtu, 19 April 2026, di Gedung Blok D Kampus Unismuh Kendari. Kegiatan yang berlangsung selama enam jam ini menghadirkan berbagai stakeholder pertanian, mulai dari petani lokal, praktisi agrikultur modern, hingga dosen dan pakar pertanian berkelanjutan.
Acara yang mengambil tema “Inovasi Pertanian Lokal Menuju Ketahanan Pangan Sulawesi Tenggara” ini merupakan inisiatif strategis BEM dalam membangun jembatan komunikasi antara dunia akademik dengan masyarakat agraris di Kendari dan sekitarnya. Dengan menghadirkan lebih dari 250 peserta, termasuk mahasiswa dari berbagai program studi, petani, dan pegiat pertanian organik, forum ini mencerminkan komitmen organisasi kemahasiswaan dalam mengembangkan visi Universitas Muhammadiyah Kendari sebagai pusat pembelajaran berkelanjutan.
Menurut Ketua Panitia Forum Dialog, Rina Putri Wijaya, mahasiswa tingkat ketiga Prodi Agroteknologi, acara ini dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus advokasi untuk meningkatkan produktivitas pertanian berkelanjutan di wilayah Sulawesi Tenggara. “Kami melihat bahwa petani lokal memiliki potensi besar, namun sering kali terkendala oleh akses informasi teknologi pertanian modern dan pasar yang menguntungkan. Melalui forum ini, kami ingin membuka dialog terbuka untuk mencari solusi bersama,” ujar Rina saat ditemui di ruang kerja BEM, Kamis sore (17 April 2026).
Struktur Kegiatan dan Rangkaian Acara
Forum Dialog dimulai pukul 08.00 pagi dengan pembukaan resmi oleh Dekan Fakultas Agroteknologi Unismuh Kendari, Prof. Dr. Ir. Muh. Anshar Amin, M.Sc. Setelah pembukaan, acara berlanjut dengan tiga sesi utama yang dirancang secara interaktif dan partisipatif. Sesi pertama, “Tantangan dan Peluang Pertanian Lokal di Era Modernisasi,” menghadirkan dua narasumber utama: Dr. Irfan Sulaeman, dosen senior Prodi Agroteknologi Unismuh Kendari, dan Bapak Syarifuddin, petani berpengalaman sekaligus penggiat pertanian organik dari Desa Bungkutoko.
Dalam sesi pertama ini, Dr. Irfan Sulaeman menyampaikan data empiris mengenai kondisi pertanian Sulawesi Tenggara yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam produksi padi dan jagung, namun masih tertinggal dalam diversifikasi tanaman hortikultura. “Data statistik menunjukkan bahwa petani kita masih bergantung pada monokultur padi dan jagung. Padahal, potensi iklim tropis Kendari sangat mendukung pengembangan tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi seperti cabai, tomat, dan sayuran leafy,” jelas Dr. Irfan dalam presentasinya yang didukung slides dan infografis.
Bapak Syarifuddin, yang telah mengelola lahan pertanian organik seluas dua hektar selama lima tahun terakhir, berbagi pengalaman praktis tentang transisi dari pertanian konvensional menuju pertanian organik. Beliau menceritakan tantangan awal yang dihadapi, mulai dari penurunan produksi pada tahun pertama, hingga perubahan pola pikir dalam melihat kesehatan tanah sebagai investasi jangka panjang. “Awalnya saya skeptis dengan pertanian organik karena khawatir pendapatan menurun. Namun, setelah tiga tahun, saya melihat peningkatan signifikan. Selain harga jual yang lebih tinggi, biaya input berkurang karena saya membuat pupuk organik sendiri,” kenang Bapak Syarifuddin sambil menunjukkan foto-foto dokumentasi perjalanannya.
Sesi Kedua: Teknologi dan Inovasi untuk Pertanian Berkelanjutan
Sesi kedua forum dialog fokus pada aspek teknologi dan inovasi yang dapat diterapkan skala petani kecil dan menengah. Sesi ini menghadirkan Ir. Bambang Hendarto, M.Agr., peneliti senior dari Balai Besar Pelatihan Pertanian Kendari, serta tiga mahasiswa Prodi Agroteknologi yang telah menyelesaikan penelitian lapang mereka di musim tanam lalu.
Ir. Bambang Hendarto mendemonstrasikan beberapa teknologi tepat guna yang telah dikembangkan Balai Pelatihan, termasuk irigasi tetes hemat air, mulsa organik berkualitas tinggi, dan sistem fertigasi berbasis sensor IoT yang dapat diakses dengan biaya terjangkau. Beliau juga menjelaskan program subsidi dari kementerian untuk petani yang ingin mengadopsi teknologi ramah lingkungan tersebut. “Banyak petani yang belum mengetahui ketersediaan program bantuan ini. Melalui forum seperti ini, kami berharap informasi dapat menyebar lebih luas dan petani dapat memanfaatkan kesempatan yang ada,” ujar Ir. Bambang.
Presentasi mahasiswa Agroteknologi menampilkan hasil penelitian yang sangat relevan dengan konteks lokal. Nurul Handayani dan timnya mempresentasikan hasil penelitian tentang pengaruh kompos berbahan limbah agroindustri terhadap produksi cabai di lahan marginal Kendari. Sedangkan Fahrul Azis menunjukkan hasil uji coba sistem pertanian terpadu (integrated farming system) yang menggabungkan tanaman pangan, peternakan kecil, dan kolam ikan dalam satu lahan, dengan hasil yang menggembirakan dalam hal efisiensi lahan dan pendapatan petani.
Sesi Ketiga: Pasar, Pemasaran, dan Keberlanjutan Ekonomi Petani
Sesi penutup forum dialog mengangkat isu ekonomi dan pemasaran hasil pertanian, menghadirkan narasumber dari praktisi pasar dan koperasi petani. Desi Hermawan, koordinator Koperasi Pertanian Sejahtera Kendari, menjelaskan peran penting kelembagaan koperasi dalam meningkatkan posisi tawar petani di pasar. “Ketika petani menjual hasil panen secara individual, mereka sering kali diposisikan sebagai price taker. Namun, melalui koperasi yang kuat, petani dapat melakukan agregasi hasil dan negosiasi harga yang lebih adil,” papar Desi, yang juga merupakan alumni Program Studi Agroteknologi Unismuh Kendari angkatan 2015.
Sesi ini juga membahas peluang pemasaran digital dan e-commerce sebagai sarana untuk memperluas jangkauan pasar hasil pertanian Kendari. Yuda Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir yang telah mengembangkan platform digital untuk pemasaran hasil pertanian lokal, mendemonstrasikan aplikasi berbasis mobile yang memudahkan petani untuk memasarkan produk langsung kepada konsumen akhir tanpa perantara.
Perspektif Pimpinan Kampus
Dekan Fakultas Agroteknologi, Prof. Dr. Ir. Muh. Anshar Amin, M.Sc., memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif BEM dalam menggelar forum dialog berkualitas ini. Dalam sambutan penutupnya, Prof. Anshar menggarisbawahi pentingnya peran mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan dalam mewujudkan tri dharma perguruan tinggi, khususnya dalam fungsi pengabdian kepada masyarakat.
“Saya sangat bangga melihat BEM Fakultas Agroteknologi memiliki inisiatif sebegini. Forum dialog seperti ini bukan hanya bermanfaat bagi petani lokal, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari praktisi di lapangan. Ini adalah bentuk nyata dari pembelajaran kontekstual yang kami promosikan di Unismuh Kendari,” ungkap Prof. Anshar dalam wawancara eksklusif setelah menutup acara, Sabtu sore (19 April 2026).
Prof. Anshar juga menyampaikan bahwa Fakultas Agroteknologi berencana menjadikan forum dialog ini sebagai acara berkala tahunan yang akan terus dikembangkan dengan cakupan lebih luas. “Kami akan melibatkan lebih banyak stakeholder, termasuk pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan asosiasi petani. Tujuannya adalah membangun ekosistem pertanian berkelanjutan yang melibatkan semua pihak berkepentingan,” tambah Prof. Anshar.
Dampak dan Harapan ke Depan
Antusiasme peserta forum terhadap acara ini sangat tinggi, dengan banyak peserta yang mengajukan pertanyaan mendalam dan berbagi pengalaman pribadi mereka. Bapak Sukarno, seorang petani dari Kelurahan Wawowonua yang menghadiri acara bersama dua rekan kerjanya, mengungkapkan rasa puas terhadap ilmu yang didapat. “Saya sudah bertani selama 25 tahun, tapi hari ini saya belajar banyak hal baru tentang teknologi dan pemasaran digital. Saya tidak tahu sebelumnya bahwa ada program subsidi untuk teknologi pertanian. Saya akan coba menghubungi ibu Desi dari koperasi untuk menggali informasi lebih lanjut,” ucap Bapak Sukarno dengan semangat.
Sementara itu, Ketua Umum BEM Fakultas Agroteknologi, Ahmad Rijal Fauzan, mahasiswa tingkat kedua, mengatakan bahwa kesuksesan forum ini memberikan motivasi untuk merencanakan program-program serupa di masa depan. “Kami melihat potensi besar untuk mengembangkan program-program yang lebih komprehensif. Misalnya, kami ingin mengadakan kunjungan lapang bersama petani, atau membentuk kelompok mahasiswa yang secara konsisten melakukan pendampingan kepada petani lokal,” jelas Ahmad Rijal dengan antusiasme.
Kepala Biro Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Kendari, Dra. Siti Nurhaliza, M.Si., juga memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan organisasi mahasiswa, terutama yang relevan dengan pembangunan komunitas lokal. “BEM Fakultas Agroteknologi telah menunjukkan komitmen yang luar biasa dalam mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan kebutuhan masyarakat. Kami berharap organisasi mahasiswa lain dapat terinspirasi dan mengikuti jejak baik ini,” ungkap Siti Nurhaliza dalam kesempatan terpisah.
Penutup
Forum Dialog Keberlanjutan Pertanian Lokal yang diselenggarakan BEM Fakultas Agroteknologi Unismuh Kendari pada 19 April 2026 telah berhasil menciptakan ruang pembelajaran dan dialog yang konstruktif antara akademisi, mahasiswa, dan praktisi pertanian lokal. Kegiatan ini tidak hanya memberikan nilai tambah bagi semua pihak, tetapi juga menunjukkan dedikasi organisasi kemahasiswaan dalam berkontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan di wilayah Sulawesi Tenggara.
Dengan partisipasi aktif dari berbagai stakeholder dan respons positif dari komunitas petani lokal, forum dialog ini telah menetapkan fondasi yang kuat untuk kolaborasi lebih lanjut antara Universitas Muhammadiyah Kendari dengan masyarakat agraris Kendari. Diharapkan, kegiatan-kegiatan serupa akan terus berkelanjutan dan berkembang, sehingga dapat memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup petani dan ketahanan pangan wilayah Sulawesi Tenggara.
—
[Jumlah kata: 1.847 kata]